Sabtu, 12 Maret 2011

Tuhan Selalu Mengabulkan Doa

Dunia pasti berputar. Kadang kita sangat bahagia. Kadang kita terpaksa berduka.
Jika sedang bahagia, mungkin kita terlupa bahwa Allah-lah yang mengatur semua.
Dan ketika berduka, semoga kita selalu ingat bahwa Allah akan selalu ada untuk kita dan Dia telah siap dengan jalan keluarnya. Bersyukurlah ketika kita masih selalu kembali kepadaNYA.

Dan hari ini, ketika semua terasa goyah, aku kembali mengingat-ingat tentang apa saja yang pernah kualami denganNya. Petualangan hidup yang luar biasa sampai aku tiba dititik ini, kembali dengan kejutan-kejutanNya, dan aku tetap yakin semua akan berakhir manis.
Seperti yang biasa Dia lakukan untukku. Ya, Dia selalu mengabulkan doaku.

Suatu hari dalam sebuah acara pengajian, seorang ustad bertanya pada peserta pengajian,
“Adakah diantara Bapak/Ibu yang doanya pernah tidak dikabulkan Allah ?”
Sekejap aku langsung melemparkan anganku pada semua mimpi-mimpiku, semua harapan-harapanku dimasa lalu, semua keinginanku terdahulu……
Dan aku menggeleng perlahan sambil tersenyum…
Ternyata semua telah dikabulkan olehNya…

Aku ingin sedikit berbagi tentang keajaiban-keajaibanNya…
Aku teringat kembali pada buku diary kecilku ketika aku duduk di sekolah dasar. Disana dengan polosnya kutuliskan cita-citaku, tentang sekolah-sekolah idaman yang ingin kumasuki.  
Mimpi lain setelah aku beranjak dewasa adalah melanjutkan bekerja di organisasi internasional dan jika suatu hari nanti aku menjadi PNS, aku cuma ingin masuk di 2 tempat, PU atau Bappenas. Ya, kesemuanya di kabulkan oleh Allah tanpa kecuali…, aku pernah merasakan AFSC, UNDP, Bappenas, dan berakhir di PU. What a miracles!!

Hari ini-pun aku terhenyak oleh doaku sendiri, doa yang bahkan sepertinya tidak mungkin dikabulkan oleh Allah…

Suatu saat, dalam keterpurukanku aku berharap, I wish I could turn back the time or speed up the time. Dan hari ini aku baru membaca berita bahwa gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang mengakibatkan hari bertambah pendek, karena terjadi pergeseran massa bumi. Sehingga bumi berputar lebih cepat yakni 1,6 microsecond. Huftttt……I don’t mean it for this case…

Well anyway, semua yang pernah kualami menjadi kekuatanku di hari ini, bahwa Allah akan selalu mengabulkan doa. Iman itu yakin dan percaya, tentunya setelah berusaha. Inilah imanku pada Allah, dan Allah pasti akan menepati janji-janjiNya. 
Hanya saja, Allah tahu pasti yang terbaik untuk kita dengan ilmuNya.
Seorang sahabat, Wiwit, pernah berkata bahwa Berani itu Berserah.
Aku mulai memahami makna kalimat itu, bahwa terkadang kita angkuh dan menganggap bahwa rencana kita adalah yang terbaik. Kemudian sibuk mencari jalan keluar, sibuk menangisi apa yang tidak tercapai, sibuk mengendalikan apa yang diluar kendali kita.
Variable berserah menjadi yang kesekian.

Ya Allah…
Engkau tahu benar kapasitasku dalam mengusahakan sesuatu. Dan saatnya sekarang aku menyerahkan semuanya kepadaMu dengan keyakinanku bahwa Engkau selalu memberikan yang terbaik untukku.

Ya, Tuhan selalu mengabulkan Doa.
Jadi berhati-hatilah dengan Doa dan apa yang kamu inginkan yah... :)

Senyum itu pasti kembali :)

Selasa, 01 Februari 2011

Berjihad dengan Sederhana

Saya teringat sebuah pertanyaan dari seorang teman, “ Kamu kalo denger isu-isu panas di gitu suka ikut komentar nggak sih di timeline?”. “ Emmm...kayaknya nggak terlalu, kecuali isu SARA, aku bisa teriak-teriak.....”

Ini tulisan saya tahun lalu, dan nggak jadi terpublish di Blog karena saya merasa kurang ilmu. Tapi saya pikir, nggak masalahlah...nanti kalo ada yang salah semoga ada yang bantu membenarkan, kalo nggak gini, ilmu nggak bertambah. Jadi, jika ada kesalahan dalam tulisan ini, sepenuhnya karena keterbatasan saya. Mohon dikoreksi.
Saya bukan orang yang tahu banyak tentang Islam.
Saya masih terus belajar semenjak pertama kali saya memeluknya, 13 tahun yang lalu. Saya pernah memeluk agama lain sebelum saya ada disini, dan saya bersyukur atas rencana AllAH SWT akan hal tersebut yang (mungkin) dapat membuat saya memiliki empati lebih terhadap permasalahan perbedaan agama di Dunia ini.
Seperti apa yang terjadi kurang lebih 10 tahun terakhir, pemboman dimana-mana yang mengatasnamakan isu agama. Sampai dengan issue terakhir tentang kekerasan yang dilakukan pada aliran Ahmadiyah (tulisan ini saya buat bulan Februari 2011, tepat setahun yang lalu, ketika ada kekerasan terhadap aliran ahmadiyah). Dan saya terhenyak.
Issue agama tidak mudah untuk saya saring sebagaimana issue tentang politik. Saringan isu politik hanya berhenti di otak. Sedangkan issue agama ? Dia harus membuatku mengerahkan seluruh otak dan emosi untuk mencerna dan berpikir, mana yang benar??! Dan saya bagai terhempas pada dunia yang dingin, tak ada kehangatan, tak ada perasaan, yang ada hanya benar dan salah. Itu kemutlakan.
Namun ternyata, bukan jawaban benar dan salah yang ternyata saya butuhkan. Tapi proses untuk mencari pemahaman yang berujung pada ketenangan hati, saya rasa itu cukup.
Tempo hari, tiba-tiba saya ingin belajar tentang jihad dalam Islam.
Kata yang sering mereka dengungkan sebagai pembenaran atas apa yang mereka lakukan untuk menyakiti orang-orang yang tidak sepaham. Sekali lagi, saya bukan orang yang tahu banyak tentang Islam, dan dengan keterbatasan saya, saya ingin berbagi tentang apa yang saya dapat.
Dasar kata arti jihad adalah “berjuang” atau “ berusaha dengan keras”. Jika sekarang jihad lebih sering diartikan sebagai "perjuangan untuk agama", maka lebih tepat bahwa ber-Jihad adalah : "perjuangan menegakkan syariat Islam" . (Wikipedia, 2011- sumber yang saya anggap netral)
Ada pula yang berpendapat bahwa:
Sekalipun kata jihad menurut bahasa memliki arti mencurahkan segenap tenaga, kerja keras, dan sejenisnya, tetapi syariat Islam lebih sering menggunakan kata tersebut dengan maksud tertentu, yaitu berperang di jalan Allah. Artinya, penggunaan kata jihad dalam pengertian berperang di jalan Allah lebih tepat digunakan ketimbang dalam pengertian bahasa. Hal ini sesuai dengan kaidah yang sering digunakan para ahli ushul fiqih: Makna syariat lebih utama dibandingkan dengan makna bahasa maupun makna istilah. (http://www.wisnu Sudibjo.wordpress.com)
*Wiii…kok saya jadi keder sendiri yah ngomongin ini*
Hmmm…pada dasarnya saya hanya ingin berbagi tentang ilmu yang damai-damai aja kok, seperti yang saya baca tentang Etika Perang Nabi Muhammad SAW:
1. Jangan berkhianat.
2. Jangan berlebih-lebihan.
3. Jangan ingkar janji.
4. Jangan mencincang mayat.
5. Jangan membunuh anak kecil, orang tua renta, wanita.
6. Jangan membakar pohon, menebang atau menyembelih binatang ternak kecuali untuk dimakan.
7. Jangan mengusik orang-orang Ahli Kitab yang sedang beribadah.
Prinsip yang jelas. Dan jika menilik lagi tentang ‘jihad’ yang terjadi sekarang tentunya tidak seperti yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW pada masa itu. Bapak Hasyim Muzadi pun menyebutkan bahwa kekerasan dalam Islam itu mutlak tidak dibenarkan kecuali umat islam diserang/diusir oleh musuh yang jelas. Dan apa yang terjadi di Indonesia tidak mempraktekan prinsip semacam itu.
Tentu pengetahuan saya sangat minim untuk berbicara tentang Jihad. Dari tulisan ini dengan seluruh keterbatasan saya, saya ingin menyampaikan bahwa masih banyak yang dapat dilakukan orang muslim dalam berjihad selain harus dengan menyakiti secara hati dan fisik kepada orang-orang yang tidak sepaham. Tidakkah ISLAM ingin dikenal sebagai agama pembawa kedamaian? Rahmatan lil alamin? Bukan hanya anugrah bagi orang islam tapi juga bagi seluruh alam raya. Bagaimana orang yang belum sepaham ini dapat memahami kedamaian ISLAM jika contoh-contoh yang ditunjukkan adalah hal-hal yang tidak dapat diterima hati nurani?. Jihad yang salah bukan melindungi ISLAM, tapi justru membuat nama ISLAM menjadi buruk. Mereka tidak akan kagum dan berdebar dengan bom bunuh diri, tapi justru akan terheran-heran bagaimana seorang bayi bisa ikut mati.
Jika kembali pada definisi jihad sebelumnya bahwa jihad adalah perjuangan mendirikan syariat islam, maka sebenarnya banyak yang bisa dilakukan karena yang dinamakan syariat islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim. Jadi tentunya banyak turunannya. Jihad bisa dilakukan dengan sederhana, memberikan contoh-contoh bahwa Islam sebagai agama pembawa kedamaian.
Tulisan ini tidak ingin saya tujukan pada siapapun. Saya hanya ingin kita saling bekerja sama menunjukkan bagaimana orang muslim ini dapat bermanfaat bagi sesama. Tidak saling menyakiti secara fisik dan hati terutama bagi orang-orang yang belum mengerti tentang Islam. Sungguh ini permohonan saya dari lubuk hati yang paling dalam. Saya akan melanjutkan tulisan ini, untuk menjabarkan lagi tentang latar belakang pemikiran saya. Senantiasa menunggu feedback dari teman-teman. Terimakasih banyak.
Islam is Peace.
@ai_dhias

Jumat, 15 Oktober 2010

Pagi ini, Tumbang di Ibu Kota

Aku selalu kuatir kalo tiba-tiba jatuh sakit, sendirian, dan dinegeri orang.
Nggak tau siapa yang bakal nolong, gag tau siapa yang bakal mijitin,gag tau siapa yang bakal kerokin punggung, gag tau sapa yang bakal beliin obat, gag tau siapa yang bakal bikinin teh anget…*hal2 kayak gini yang selalu bikin kangen banget sama suasana rumah*

Dan pagi ini…itulah yang terjadi.
Siklus kewanitaan baru saja datang dan membuat perutku melilit lit lit lit...
*padahal udah lama gag ngerasa kayak gini*
Karena ada yang harus dikerjakan di kantor, aku tetap nekat berangkat.
Da
ri kosan ke halte Monas.

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Transjakarta arah Blok M dateng juga.
Seperti biasa, sudah penuh.
Jadi aku tetap harus berdiri karena gag keliatan kayak orang hamil yang biasa dibagi kursi.
Parahnya lagi posisi berdirinya deket sama AC dan susah buat geser2 lagi.
Semakin lemes dan gemeterannn…

Baru jalan satu halte, aku udah nggak kuat. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari bis di halte Bank Indonesia. Alhamdulillah nemu tempet duduk disitu.
Dan akupun teronggok disana. Keringet dingin, gemeteran, lemes….
Gag tau mesti naek turun dari jembatan busway pake tenaga yang mana.
Akhirnya aku cuma bisa duduk meringkuk di halte sambil ngumpulin tenaga.
Sampai ada mba-mba yang jaga halte dateng…
“Mba-mba…kenapa ? sakit ya ? mau pake ini ?” sambil menawarkan minyak kayu putih.
Aku cuma bisa kasih senyum getir, dan menyakinkan si mbaknya kalo aku akan segera baik2 saja. Minyak kayu putih tidak kuterima karena perutku masih berasa panas balsam yang kupakai sebelum berangkat.

15 menit meringkuk di kursi itu dan berasa sia-sia, akhirnya aku nekad jalan dan masih gemeteran. Sebelum pergi, lagi-lagi aku diyakinkan sama mas-mas yang jaga halte buat ati-ati karena katanya mukaku udah pucet banget. Untung dibawah tangga halte persis udah ada tukang ojek nangkring. Tanpa nawar, aku langsung bilang…”Bang, Cikini…”
Si abang langsung sigap, kasih helm sambil siapin motornya,” Neng sakit ya ? Pusing neng ? Sabar neng…..” si abang ojek langsung ngebut, anter aku ketempet tujuan. Aku cuma bisa pegangan ujung jaket kulitnya dan berharap gag rontok dijalan.
Sampe di kosan.
Udah disambut mba ana, si mbak yang biasa cuci baju di kosan.
“Lhah…mba ai kok pulang lagi ? kenapa mba ? sakit ? mau dikerokin ?“
rentetan pertanyaannya cukupp aku jawab dengan 2 kali muntah di lantai :D

Yah…itulah pagiku hari ini. Satu hal yang ingin aku sampaikan dalam tulisan ini. Bahwa dimanapun kita berada, lingkungan kita yang harus menjadi keluarga kita. Kekhawatiran aku tentang betapa aku akan sendirian ketika sakit pun harus segera aku hapus dengan menciptakan keluarga baru di ring pertama lingkunganku sekarang. Karena pada akhirnya merekalah yang akan menolong kita di perantauan ini. Hmmm….terimakasih mba-mas transjakarta, abang ojek, dan mba ana yang udah pijit-pijitin punggungku tadi..:)

Tumbang

Jumat, 01 Oktober 2010

Could it be United without Changing its Color?

Could it be United without Changing its Color?

Yes friends, this is my curiosity...and will always be...
As long as, it still looks beautiful 
As long as, it complements each other
As long as, it reveals happiness
As long as, it doesn't hurt each other
As long as, it can still achieve the main purpose of life, GOD

WHY IT SHOULD CHANGE ITS COLOR ?

Please give me a reason without bringing any selfishness that your believe is the best one (even it's true).

*I do really need your Enlightenment, God :')*
 


Selasa, 31 Agustus 2010

Energi Berbagi Kursi

Kali ini aku ingin berbagi tentang ’Mencari Energi’ di Ibu Kota. Tentunya tulisan ini dilatar belakangi pengalaman pribadi mengelola emosi diri dan ke-BETE-an yang kadang memuncak lalu meledak, bahkan hanya karena dipicu masalah sepeleee...
Tapi tenanggg...ada beberapa tips untuk mengembalikan energi yang terkuras cuma gara-gara berantem sama kondektur yang gag mau berentiin kopaja atau karena dimarahin sama sesama penumpang bis gara-gara sepatunya keinjek oleh kaki saya :D
  1. Berbuat Baik 
    Ini yang kumaksud dengan ’berbagi kursi’. Ya, salah satu contoh berbuat baik mungkin dengan berbagi tempat duduk pada yang lebih membutuhkan ketika di angkutan umum. Kakek Nenek, wanita hamil, ibu-ibu yang ribet gendong anak kecil atau siapapun yang kira-kira akan sangat bersyukur ketika kita memberikan kursinya ke mereka. Dan hal yang tidak tergantikan adalah ketika mereka mengucapkan terimakasih dengan senyum yang merekah.... dan bahkan suatu saat nenek itu mengelus punggungku ketika aku memberikan tempat duduk yang tak seberapa kepada cucunya.
  2. Berbuat lebih
    Terkadang sekelebat ke-Bete-an datang hanya karena kita gagal nawar harga bajaj dan langsung ditinggal pergi plus dimaki-maki. Nah, sesekali bolehlah kita kasih tips sama tukang bajaj yang udah tua dan baik hati yang telah mengantar kita sampai ke tujuan dengan semangatnya. Kalo tadi udah berhasil nawar jadi 10 rebu, kasihnya 15 rebu. Yang 5 rebu adalah ongkos untuk membuat dia tersenyum dan mengalirkan energi senyumannya ke jiwa kita.
  3. Menjalin kembali komunikasi dengan teman lama
    Terkadang teman lama sudah meluangkan waktu untuk SMS kita. Tapi dasar sok sibuknya kita, SMS nya hanya seperti SMS dari provider yang menawarkan produk barunya. No Reply. Mungkin kalo pas waktu luang, bisa tuh buka-buka inbox dan lihat-lihat sms yang belum terbalas. Bagusan lagi kalo dibales pake telpon, bagusan lagi kalo sekalian ketemuan. Sadar nggak sadar, sahabat lama adalah sumber energi me-recharge hati kita ketika penat, mulai dari omongan kualitas tinggi, berbagi mimpi sampe ke yang gag mutu.
  4.  Telpon keluarga
    Nah ini nih yang manjurrrrrrrr...... terutama buat para perantau. Kehidupan di tempat baru pasti menyita perhatian. Dan itu semua pasti membuat komunikasi untuk keluarga menjadi berkurang. Menelpon keluarga dirumah seketika saat kita luang pasti bisa jadi bahan bakar melanjutkan aktivitas selanjutnya. Mungkin saja ibu bapak dirumah sebenernya udah pengen nelpon kita duluan, hanya karena takut mengganggu aktivitas kita maka mereka jadi mengurungkan niatnya. Nggak ada yang lebih berharga selain mendengar kabar mereka baik-baik saja disana...
  5. Lapor kepada-Nya 
    Dan apapun yang telah kita usahakan untuk mengisi kembali energi kita, TUHAN adalah sumber jawabannya. Ketika ternyata energi itu tak kunjung kembali, ketika ternyata suasana tak sesuai keinginan hati, ketika ternyata rencana tak dapat terlaksana, maka kepada-Nya kita harus kembali.

Everything Happens for Good Reasons. 

Ceritakan kepada-Nya, tidur, dan ketika kamu bangun, semuanya akan baik-baik saja.
Selamat berbagi kursi, ehh... energi!;)


Enjoy the chair ? or share?

Kamis, 29 Juli 2010

Tentang Pilihanku, Sebagai PNS

Tulisan ini berawal dari status FBku awal bulan Juli ini :

Baru nyadar, 2 minggu ini aku akan berhenti memikirkan : hari ini makan apa, ke kantor naek apa, di kantor dapet tugas apa, pulang kantor jam berapa. Waw..Senangnya jadi PNS, belajar dan dibayar...Alhamdulillah...^^

Dan ternyata status itu mengundang teman lamaku berkomentar : Dulu aku pengen daftar pns,kata kamu ga usah.kata kamu masih muda,tar kaget.tapi ternyata kamu sekarang jadi pns :(

Terhenyak membacanya...
*merasa bertanggung jawab tepatnya*

Jadi ingin berbagi sedikit tentang pilihanku ini. Karena sejujurnya munculnya status itu tidak semudah bagaimana kalimat itu terlihat secara kasat mata. Dan sampai sekarang pendapatku masih sama. Menyarankan untuk mencoba swasta dulu sebelum PNS dengan pertimbangan:

  1. PNS adalah sebuah pekerjaan yang permanen. Sekali masuk, perlu berpikir ribuan kali jika ingin keluar, karena kalo udah keluar gag bisa masuk lagi. Makanya ada baiknya icip kanan kiri dulu dan cari mana yang paling enak.
  2. Gaji PNS yang kecil. Golongan IIIa = Lulusan S1 = 1,7 jt. 
    *try to mention it clearly to be considered:P. Jadi kalo kerja di swasta dulu paling nggak bisa icip-icip gaji gede^^

Tapi ternyata...9 bulan setelah lulus kuliah dan setelah 2 kali mencicipi pekerjaan semi swasta, aku keterima jadi PNS. Awalnya, bukannya happy, berbunga-bunga, loncat kegirangan, atau ekspresi senang lainnya yang keluar. Aku justru hanya memandang layar monitor berisi pengumuman itu dan terpaku dengan jutaan bayangan...pekerjaan permanen, statis, jam kerja gag fix, lembur tanpa uang lembur, dan penyusutan gaji:P
Walau pada akhirnya inilah yang kupilih, mulai Desember 2009. 

Dalam proses ini aku terus mencari-cari jawaban, apakah memang ini jalanku ?
Sampai pada titik aku menemukan jawaban bahwa Tuhan tidak pernah berhenti memberikan bukti bahwa rencana-Nya lah yang terbaik.  

So buat teman lamaku, dan mungkin teman-teman lain yang sedang bingung memilih, mungkin beberapa alasan pribadiku dibawah ini dapat membantu memberikan pertimbangan dalam memilih langkah untuk masa depan (*maaf kalo sangat subyektif :P) :

  1. Aku perempuan 
    Aku menganggap pns adalah pekerjaan yang ’aman’ bagi perempuan. Dari segi penghasilan (yang masih bisa dibackup sama suami :P), jam kerja, dan stabilitas pekerjaan. Tingkat flexibilitas PNS juga tinggi *bisa diartikan banyak hal*. Kalo buat laki-laki ? Cukup aman juga kok. Tapi semua tetap tergantung bagaimana kita berprestasi dan membawa diri. 
  2. PNS bukan pekerjaan statis
    Mitos ’PNS nganggur’, masih berlaku kok. Tapi semua itu sangat tergantung pada bagaimana kita ingin memaknai pekerjaan dan diri kita. Mau nganggur boleh, mau kerja, banyak yang bisa dikerjakan. Masalah negara numpuk gag karuan, harusnya gag mungkin PNS nganggur kan ?
  3. Siap ditempatkan dimana saja
    Ini yang bikin keder.  Kalimat-Yang-Harus-Ditandatangani-Dengan-Materai ini cukup bikin khawatir. Tapi lagi-lagi karena aku perempuan, alasan ’ikut suami’ akan mungkin dipertimbangkan. Buat yang sangat tidak siap ditempatkan dimana saja, aku tidak menyarankan untuk masuk kementerian P* ini yang cabangnya ada diseluruh Indonesia. Tapi buat yang siap mengabdi untuk masyarakat dimanapun mereka berada, tempat ini ladang amalnya. 
  4. Hak dan fasilitas PNS 
    Hak dan fasilitas yang akan diterima seorang PNS cukup menenangkan hati. Mulai dari asuransi kesehatan, cuti, beberapa jenis tunjangan sampai uang pensiun.
  5. Ini semua tentang Pengabdian
    Dannnn...... inilah pointnya. Pengabdian.
    Mind set ini musti dibangun dari awal, dan diingatkan setiap saat untuk mengurangi keluhan-keluhan yang (sangat) mungkin datang kemudian. PNS adalah tentang bagaimana kita mengabdikan diri kita untuk melayani masyarakat.

Fiuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh.........*lap keringet*

Yah...dimanapun kita berada yang penting kerja keras dan ikhlas. Sisanya, porsinya yang Maha Memberi dan Menganugerahi. Aku percaya bahwa tiap peran sudah ditentukan, dan lagi-lagi tinggal bagaimana kita memaknai peran itu. 

Semangat-semangatt...tentukan pilihan kalian...*Choky Sitohang mode On*


 Dedicated to my Friend, David Tanama 

Minggu, 06 Juni 2010

My-Super-Mom-Birthday

Hari ini Ibu ulang tahun yang ke 53.
Aku tidak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih padanya yang telah mengabdikan separuh hidupnya bagi keluarga.
Ucapanku tadi pagi lewat telpon rasanya tidak cukup.
Tapi mendengar ceria suaranya lewat telepon menjadi mencukupkan semua hal.
*Terimakasih ya Alloh, masih diberi kesempatan ini*
Selesai aku mengucapkan doa untuknya, ibu menjawab,
” Makasih ya Dek, wah...kontrak hidupnya berkurang setaun ni....”
Seperti mendengar realita yang tidak ingin dihadapi ketika meniup lilin ulang tahun...
Well, the time is keep ticking....

Tapi bukan ke mellow-an ini yang ingin kubagi. Tapi kebanggaanku pada sosoknya yang ingin kucatat disini.

  1. Ibuk selalu bisa bangun paling pagi meski tidur paling malam diantara kami
  2. Ibuk paling nggak bisa kalo nggak sibuk. *Guru di SMK, Guru Kursus Jahit Modiste Yudiasari, Ngurusin Butik FloFash, Ketua IPBI dan Lembaga Sertifikasi Profesi, dan sampe rumah berubah jabatan jadi Ibu Rumah Tangga dan Nenek momong Cucu*
  3. Ibuk nggak pernah berhenti belajar *koleksi sertifikatnya lebih banyak dari punya anak2nya, Cuma tinggal belajar pake computer sama internet yang masih diawang-awang*
  4. Ibuk selalu bikinin susu mulai dari aku bayi sampe aku selesai sekolah S1
  5. Ibuk Hebat dalam urusan jahit-menjahit dan permak memermak baju *satu benang lepas pun selalu terlihat dimatanya*
  6. Ibuk jago dalam urusan masak *walo lebih sering beli lauk di warung kalo weekday*
  7. Ibuk adalah Guru yang tidak perlu diragukan keahliannya *untuk anak-anak dan murid-muridnya*
  8. Ibuk selalu bisa ceria di depan bapak meski udah dicuekin abis-abisan sama babe *wuakakakak*
  9. Ibuk adalah orang yang kuat memegang prinsip-prinsipnya.
  10. Dan Ibuk ... orang yang selalu ingin berbagi kasih dan kebaikan bagi orang lain. Paling tidak, itu yang diniatkan dalam hatinya**

    **List ini mungkin bertambah sewaktu :D

    Yang jelas, dimataku, ibu adalah kombinasi sempurna antara ibu rumah tangga dan wanita karir dengan selalu menegaskan bahwa Quality Time is more than Quantity bagi keluarga. Tetap Seimbang.
    Semoga besok bisa kucontoh ya bukkk....Dan tentang " Time is Keep Ticking...", Tidak ada waktu lagi untuk menyia-nyiakan kehadiran orang-orang yang kita sayang disekitar kita. Berusaha selalu memberikan yang terbaik tanpa kecuali, because time is keep ticking...

Happy Birthday and Love You Mom!!!

Ulang Tahun Ibu 3 Tahun yang Lalu