Jumat, 12 Oktober 2012

The Lesson From The Distance


Have you realized that sometimes Distance is good for our phase of life ? I have.

Kalimat diatas mungkin biasa kita kenali dengan apa yang disebut dengan 'hikmah'. Sometimes we get difficult in looking for si 'hikmah' ya kan?. Makanya waktu si 'hikmah' ini ketemu, rasanya kok kayak pengen meluk-meluk si Maha Perencana, untuk segala rencananya yang sempurna untuk kita. Ya, 'jarak' adalah pelajaran hebat yang diberikan oleh Allah yang akhirnya menjadi hikmah tersendiri bagi perjalanan hidup keluarga kami.

Mau share sedikit yah....

Kesempatan bagi keluarga kami untuk tinggal bersatu dalam satu rumah bersama-sama hanya sampai dengan tahun 1998. Waktu itu kakak diterima kuliah di ITB, di kampus dan jurusan impiannya. Saya tidak tahu bagaimana perasaan orang tua saya saat itu, mungkin bangga, mungkin sedih. Yang saya tahu persis hanyalah perasaan saya saat itu, sangat sedih. Saya ingat betul gimana nakalnya saya ke kakak saya ini yang beda 5,5 tahun dari saya. Ya karena saya tahu persis, dia akan mengalah untuk apapun yang saya lakukan terhadapnya, hihi...*grinning. Sampai suatu ketika, dia harus pindah ke bandung dan berpisah dengan keluarga. Dan sayapun kehilangan obyek penderita. (duh pengen ketawa mulu nih nulisnya;p).

Lalu tahun 2002, tiba-tiba Bapak dapat SK penempatan di Kupang, NTT. Tak dapat dihindari lagi, Bapak harus pindah. Bapak saya ini tipe-tipe nggak banyak bicara. Bicara ya cuma seperlunya, paling sering kerja, nonton berita dan baca koran. Komunikasi saya dengan Bapak seadanya, jarang ngobrol juga. Tapi yang sweet dari bapak saya ini adalah beliau rajin nganterin susu coklat ke kamar saya ketika lagi musimnya ulangan. Itu aja. Hahaha.....*toss dulu dong pakk;p.

Jadilah setelah kepindahan Bapak ke Kupang, saya hanya tinggal berdua dengan ibu di Jogja.

Tahun 2006, ada suatu fase dimana kami sekeluarga terpisah-pisah dan tidak tinggal di satu rumah. Saya Kerja Praktek di Jakarta, Kakak sekolah di Malaysia, Bapak pindah ditempatkan di Pare-pare, dan Ibu saya tetap jaga kandang di Jogja (that's because my mom is a teacher, dan nggak bisa ikut pindah-pindah ngikutin Bapak).

Lalu tibalah tahun 2009. Bapak pensiun dan bisa kembali ke Jogja. Kakak saya juga udah kelar kuliah S2, menikah, dan memutuskan untuk tinggal di Jogja.  Semuanya nyaris kumpul lagi. Tapi ternyata, tahun itu giliran saya yang harus pindah keluar kota, Jakarta. Mau gak mau, suka gak suka :)

Lika-likunya emang udah mirip kayak drama. Sayang aja kalo nggak bisa ngambil lesson learned-nya. Si 'Hikmah' dari mata kuliah 'jarak' yang terdiri atas ratusan SKS ini saya rasakan benar-benar ketika saya ada di Jakarta sekarang. Jauh dari keluarga, dan semua menjadi lebih bermakna dan mengingatkan kembali pada semua perubahan yang terjadi.

Saya yang tadinya nakal banget sama kakak, adalah yang ternyata paling nggak bisa nahan air mata di stasiun ketika dia harus pulang ke bandung. Then i realized, i love him so much, dan kapok nakalin dia lagi. So do with my Father. Dulu satu rumah tapi nggak pernah ngobrol. Namun semenjak ditempatkan di luar kota, Bapak jadi lebih terbuka, sering bercerita dan tertawa. Dan sekarang ketika saya di Jakarta,  Bapak yang hobby ngirimin sms-sms lucu, Bapak yang nelpon untuk ingetin minum madu, Bapak juga yang selalu ngingetin ibu buat nelpon saya. Hihihi...

Sesusah-susahnya mata pelajaran 'Jarak' ini bagi keluarga kami, namun jarak inilah yang mengajarkan kami tentang kesetiaan, kekuatan, kasih sayang, tanggung jawab dan komitmen.  Jangan terlalu khawatir tentang jarak yang memisahkan, seiring dengan berjalannya waktu, dia akan mengajarimu bagaimana caranya untuk bertahan. Dan mungkin dia akan memberikan pelajaran lebih dari yang engkau bayangkan.

1.38 AM, Di Pulau Borneo, yang tetiba mengingatkan saya untuk menulis tentang jarak. Selamat Malam :)


"Another Aeroplane, another sunny place, i'm lucky i know....
but i wanna go home, mmm, I got to go home....".
 Home, Michael Buble. 


Minggu, 02 September 2012

Hello You.

Halo, kamu, apa kabar ?
Pertanyaan ini sama-sama kita tahu, tidak perlu dilontarkan lagi.
Aku hanya ingin berbagi analogi disini, agar kamu dan mereka mengerti.
Jika tidak lagi dapat memperjuangkan, memang sebaiknya pergi.
Tak perlu lagi mengais-ngais hati ini yang sudah terberai tanpa arti.
Mengumpulkannya dan memporakporandakan. Berulang kali.
Aku lelah, aku tahu kamu juga. Ini sudah terlalu lama.
Seperti yang kamu ungkapkan, memotong kepala memegang kaki.
Jangan egois. Banyak hati yang akan terluka lagi.
Ini sudah aku katakan berulang kali. 

Untuk segala perbedaan yang kita hadapi,
Prinsip kita sama, diri sendiri yang akan kita korbankan.
Bukankah begitu, teman?
Hati ini, Biarlah Allah yang jaga, pun dengan perasaanmu dan aku.
Percayakan ini pada-Nya. Biar Dia yang menyelesaikannya, sang penyembuh luka.

Pemberani mati sekali, pengecut mati berkali-kali.
Aku memilih menjadi pemberani dengan menulis ini.
Jangan dekati aku lagi, jika pilihanmu terbagi.
Dengan waktu yang sama, jangan bergerak di dua hati.

Awalnya aku mempercayakanmu sebagai obatku.
Tapi sudah tidak berkerja lagi.
Karena kamu hanya membuatku tercandu.
Mungkin obat lain sudah menunggu.
Jangan lagi mengiba, dan membuatku menantimu.
Janjimu, sudah tidak tepat waktu.

Hello You.
Aku mohon jangan datang dan pergi sesuka hati.
Karena pria sejati mempunyai ketetapan hati.

-

@ai_dhias

Perahu Kertas

Perahu Kertas.Radar Neptunus.Aquarius.
Menulis.Melukis.Copywriter.Books.Unmainstream.Genuine.
Passionate.FAITH.Flows.Hope.
ME.

Trust to Where it Flows


@ai_dhias
Image from: gulaliproduction.wordpress.com

Selasa, 14 Agustus 2012

Tambah Usia

Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Salah satu janji sederhana saya tahun ini adalah merapikan foto-foto di folder saya. Dan tahu apa? Ternyata itu bukan janji sederhana. Folder foto ada dimana-mana, laptop, netbook, komputer kantor, handphone, dan kondisinya sangat berantakan. Bebeberapa diantaranya sudah terfolderkan, dengan berbagai macam kategori acak. Sebagian lagi asal taro karena tergesa. Saya meremehkannya. Padahal jika foto2 itu tidak terback up dengan baik dan hilang, saya tidak tahu akan berapa lama menangisinya. Maka rencana saya adalah merapikan folder saya per tanggal-bulan-tahun, dan memback up nya ke CD per tema. Sounds nice :D

(Tentang back up memback up ini, jangan lupa untuk memastikan bahwa settingan waktu di kamera kamu udah bener, dan bios di laptop/komputer kamu masih oke. Kalo nggak maka tanggal kamu motret jadi nggak bisa ke detect lagi :(( )

Well, Memandangi foto-foto itu membuat saya selalu ingin menuliskan segala yang telah saya jalani sejauh ini. Karena saya tahu tulisan akan abadi. Siapa tahu nanti anak saya suka blogging juga, jadi bisa menikmati tulisan mama-nya dimasa muda. Haha..... *cari suami dulu cyinnn*
Ya, saya akan menuliskannya, sedikit demi sedikit.....

Pertama tentang pertambahan usia saya di tahun 2012 ini :)

Sekarang sudah akhir bulan Agustus, 8 bulan sudah tahun 2012 ini berjalan. Mungkin ini tahun tercepat yang pernah saya rasakan. Hari berganti, tahu-tahu jumat lagi-jumat lagi. Cepat sekali. Keinginan nulis di Blog tentang ulang tahun sudah ada sejak 14 februari yang lalu, dan baru detik ini terealisasi. Bukan apa-apa sih, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih. Beribu terimakasih.

Bulan februari yang lalu, saya jadi panitia lelang. Penuh lembur-lembur. Tapi saya menyadari, ada yang asyik dalam pekerjaan ini. Jadi semacam tersiksa tapi bahagia. Kayak tinggal dijakarta, mau mati, tapi tetep aja disini. Ya karena saya ketemu temen-temen asyik di lelang ini, @armandbudiman, @dianzbox, @garika_up, @indra_maulana, @anggerrita, mba Icha, Raymond, Erik :D. Dengan teman-teman ini semua dimuntahkan, dari kerjaan sampai cicilan, dari suasana hati sampai investasi *uhuk*. Mereka juga yang rela menemani saya menghabiskan detik-detik usia dua puluh lima di jakarta. Terimakasih juga pada teman-teman ruangan, @asatriana yang udah beliin kue, chris, ririn, widya, dan tidak lupa Pak Kasi kesayangan Pak Firsta. TERIMAKASIH.


Sebagian orang bilang umur 26 sudah tidak lagi muda, sebagian lagi bilang, perjalanan masih panjang. Saya bersyukur masih diberi waktu sampai detik ini dengan seluruh anugrah disekitar saya, kekurangan dan kelebihan pencapaian saya.

Ibarat naik rollercoaster di Dufan. Naik turun, cepat lambat. Suka-suka rollercoasternya. Apakah saya berhak menghentikannya? Mau teriak sekenceng apa juga kalo belum waktunya berhenti juga nggak akan berhenti. Jadi daripada teriak-teriak, mungkin akan lebih baik jika saya menikmatinya. Menikmati pemandangan indah ketika saya diatas, pasrah ketika jungkir balik, dan bersyukur ketika sedang melewati lintasan horizontal. Toh dia juga punya waktu untuk berhenti. Walau setelah selesai naik rollercoaster, kita juga harus naik Histeria atau Tornado. Hahahaa…Jangan khawatir! Semua akan membuat kita makin berani!
Selamat Ulang Tahun, Ai :)

 Tukang lembur, minus erik

  Temen-temen ruangan, plus pak Kasi

  Best Friend, Mama Kedric


 The Cake



Jumat, 10 Februari 2012

Berjihad dengan Sederhana

Saya teringat sebuah pertanyaan dari seorang teman, “ Kamu kalo denger isu-isu panas di gitu suka ikut komentar nggak sih di timeline?”. “ Emmm...kayaknya nggak terlalu, kecuali isu SARA, aku bisa teriak-teriak.....”

Ini tulisan saya tahun lalu, dan nggak jadi terpublish di Blog karena saya merasa kurang ilmu. Tapi saya pikir, nggak masalahlah...nanti kalo ada yang salah semoga ada yang bantu membenarkan, kalo nggak gini, ilmu nggak bertambah. Jadi, jika ada kesalahan dalam tulisan ini, sepenuhnya karena keterbatasan saya. Mohon dikoreksi.

Saya bukan orang yang tahu banyak tentang Islam.
Saya masih terus belajar semenjak pertama kali saya memeluknya, 13 tahun yang lalu. Saya pernah memeluk agama lain sebelum saya ada disini, dan saya bersyukur atas rencana AllAH SWT akan hal tersebut yang (mungkin) dapat membuat saya memiliki empati lebih terhadap permasalahan perbedaan agama di Dunia ini.

Seperti apa yang terjadi kurang lebih 10 tahun terakhir, pemboman dimana-mana yang mengatasnamakan isu agama. Sampai dengan issue terakhir tentang kekerasan yang dilakukan pada aliran Ahmadiyah (tulisan ini saya buat bulan Februari 2011, tepat setahun yang lalu, ketika ada kekerasan terhadap aliran ahmadiyah). Dan saya terhenyak.
Issue agama tidak mudah untuk saya saring sebagaimana issue tentang politik. Saringan isu politik hanya berhenti di otak. Sedangkan issue agama ? Dia harus membuatku mengerahkan seluruh otak dan emosi untuk mencerna dan berpikir, mana yang benar??! Dan saya bagai terhempas pada dunia yang dingin, tak ada kehangatan, tak ada perasaan, yang ada hanya benar dan salah. Itu kemutlakan.

Namun ternyata, bukan jawaban benar dan salah yang ternyata saya butuhkan. Tapi proses untuk mencari pemahaman yang berujung pada ketenangan hati, saya rasa itu cukup.

Tempo hari, tiba-tiba saya ingin belajar tentang jihad dalam Islam.
Kata yang sering mereka dengungkan sebagai pembenaran atas apa yang mereka lakukan untuk menyakiti orang-orang yang tidak sepaham. Sekali lagi, saya bukan orang yang tahu banyak tentang Islam, dan dengan keterbatasan saya, saya ingin berbagi tentang apa yang saya dapat.

Dasar kata arti jihad adalah “berjuang” atau “ berusaha dengan keras”. Jika sekarang jihad lebih sering diartikan sebagai "perjuangan untuk agama", maka lebih tepat bahwa ber-Jihad adalah : "perjuangan menegakkan syariat Islam" . (Wikipedia, 2011- sumber yang saya anggap netral)

Ada pula yang berpendapat bahwa:

Sekalipun kata jihad menurut bahasa memliki arti mencurahkan segenap tenaga, kerja keras, dan sejenisnya, tetapi syariat Islam lebih sering menggunakan kata tersebut dengan maksud tertentu, yaitu berperang di jalan Allah. Artinya, penggunaan kata jihad dalam pengertian berperang di jalan Allah lebih tepat digunakan ketimbang dalam pengertian bahasa. Hal ini sesuai dengan kaidah yang sering digunakan para ahli ushul fiqih: Makna syariat lebih utama dibandingkan dengan makna bahasa maupun makna istilah. (http://www.wisnu Sudibjo.wordpress.com)

*Wiii…kok saya jadi keder sendiri yah ngomongin ini*

Hmmm…pada dasarnya saya hanya ingin berbagi tentang ilmu yang damai-damai aja kok, seperti yang saya baca tentang Etika Perang Nabi Muhammad SAW:
1. Jangan berkhianat.
2. Jangan berlebih-lebihan.
3. Jangan ingkar janji.
4. Jangan mencincang mayat.
5. Jangan membunuh anak kecil, orang tua renta, wanita.
6. Jangan membakar pohon, menebang atau menyembelih binatang ternak kecuali untuk dimakan.
7. Jangan mengusik orang-orang Ahli Kitab yang sedang beribadah.

Prinsip yang jelas. Dan jika menilik lagi tentang ‘jihad’ yang terjadi sekarang tentunya tidak seperti yang di ajarkan Nabi Muhammad SAW pada masa itu. Bapak Hasyim Muzadi pun menyebutkan bahwa kekerasan dalam Islam itu mutlak tidak dibenarkan kecuali umat islam diserang/diusir oleh musuh yang jelas. Dan apa yang terjadi di Indonesia tidak mempraktekan prinsip semacam itu.
Tentu pengetahuan saya sangat minim untuk berbicara tentang Jihad. Dari tulisan ini dengan seluruh keterbatasan saya, saya ingin menyampaikan bahwa masih banyak yang dapat dilakukan orang muslim dalam berjihad selain harus dengan menyakiti secara hati dan fisik kepada orang-orang yang tidak sepaham. Tidakkah ISLAM ingin dikenal sebagai agama pembawa kedamaian? Rahmatan lil alamin? Bukan hanya anugrah bagi orang islam tapi juga bagi seluruh alam raya. Bagaimana orang yang belum sepaham ini dapat memahami kedamaian ISLAM jika contoh-contoh yang ditunjukkan adalah hal-hal yang tidak dapat diterima hati nurani?. Jihad yang salah bukan melindungi ISLAM, tapi justru membuat nama ISLAM menjadi buruk. Mereka tidak akan kagum dan berdebar dengan bom bunuh diri, tapi justru akan terheran-heran bagaimana seorang bayi bisa ikut mati.

Jika kembali pada definisi jihad sebelumnya bahwa jihad adalah perjuangan mendirikan syariat islam, maka sebenarnya banyak yang bisa dilakukan karena yang dinamakan syariat islam adalah hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim. Jadi tentunya banyak turunannya. Jihad bisa dilakukan dengan sederhana, memberikan contoh-contoh bahwa Islam sebagai agama pembawa kedamaian.

Tulisan ini tidak ingin saya tujukan pada siapapun. Saya hanya ingin kita saling bekerja sama menunjukkan bagaimana orang muslim ini dapat bermanfaat bagi sesama. Tidak saling menyakiti secara fisik dan hati terutama bagi orang-orang yang belum mengerti tentang Islam. Sungguh ini permohonan saya dari lubuk hati yang paling dalam. Saya akan melanjutkan tulisan ini, untuk menjabarkan lagi tentang latar belakang pemikiran saya. Senantiasa menunggu feedback dari teman-teman. Terimakasih banyak.


Islam is Peace.

@ai_dhias

Jumat, 11 November 2011

Diklat Jabatan Fungsional

Stasiun Bandung, 11.11.11

Kali ini saya sedang di Stasiun Bandung, sambil menanti kereta yang baru akan berangkat 1 jam lagi. Sambil menunggu, saya ingin bercerita sedikit tentang diklat yang baru saja saya jalani di Bandung 2 minggu ini. Diklat Pengangkatan Jabatan Fungsional sebagai Penata Ruang.

Jadi sekarang, seluruh staf diarahkan untuk memiliki jabatan fungsional. Dengan adanya jabatan tersebut PNS diharapkan dapat bekerja lebih fokus, mandiri, produktif, kreatif dan inovatif dalam bekerja. Karena apa ? Dalam jabatan ini PNS akan dikelompokkan sesuai dengan keahliannya, dan akan dapat naik golongan dengan mengejar nilai kredit (yang kayanya susah banget ngumpulinnya kecuali dengan menulis). Istilah PGPS (Pintar Goblok Penghasilan Sama), semoga bisa di reduksi. Arah selanjutnya adalah Reformasi Birokrasi. Dimana dengan adanya jabatan fungsional tersebut, struktur organisasi dapat lebih dirampingkan. Terdapat wacana eselon IV akan dihilangkan di tahun sekian, eselon III akan dihilangkan di tahun sekian, selanjutnya eselon I dan II akan bekerja dengan para ahli-ahli tersebut. Belum terbayang bagaimana nanti jadinya, namun saya optimis bahwa fokus pada pekerjaan substansi akan memudahkan kami untuk belajar lebih profesional menekuni suatu bidang.

Para pengajar terdiri atas Widya Iswara dan para pejabat di lingkungan kantor yang masih aktif. Nah, untuk iseng-iseng saja, saya mengelompokkan pengajar menjadi 3 golongan, sbb :
1. Pengajar Galau.
Tidak semua puas dengan sistem penataan ruang di Indonesia saat ini. Agak membingungkan juga ketika si pengajar meluncurkan kritik-kritik dan pertanyaan-pertanyaan membingungkan terkait UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Saya seperti anak TK yang disuruh menilai poligami itu benar atau salah (Hedeh, analoginya gini amat ;p). Artinya, saya yang masih limbung jadi semakin bingung. Maigattt, hanya untuk menerjemahkan satu pasal saja ada banyak asumsi. Ending setelah pelajaran usai adalah, saya ikut galau bersama si pengajar -___-*

2. Pengajar Optimis
Nah, kalo yang ini oke. Kami disini memang untuk mencari pencerahan. Senang rasanya mendapat tipe pengajar yang optimis. Beberapa pengajar yang optimis pun terkesan lebih inovatif dalam menyampaikan materinya. Tidak berhenti disitu, mereka juga menyampaikan hal-hal diluar yang biasa kami pikirkan. Misalnya saja tentang Peraturan Zonasi. Dimana yang biasa dilakukan selama ini hanya sekedar mengisikan kegiatan yang diperbolehkan, diperbolehkan bersyarat, tidak diperbolehkan, intesitas pemanfaatan ruang dan sarana prasarana minimum, dengan apa adanya. Padahal, dalam menentukan hal tersebut perlu analisis mendalam. Misalnya untuk daerah sempadan sungai rawan banjir, perlu ditinjau ketentuan untuk banjir tahunan X tahun atau Y tahun. Bahkan mungkin ketinggian saklar listrik minimum (agak a-spatial sih ;p). Pengajar lain juga menitipkan pesan untuk belajar dan belajar, segera googling untuk istilah-istilah yang tidak diketahui, dan mencari buku referensinya di perpustakaan jika ingin mengetahui sebuah konsep dengan lebih mendalam (hal yang tentunya jarang saya lakukan;p).

3. Pengajar Inspiratif.
Nah pengajar insipiratif ini saya temui di akhir-akhir diklat. Mungkin karena para pejabat harus mengejar nilai kredit lewat menulis, maka diakhir diklat ada mata diklat untuk menulis karya tulis ilmiah. Kedengaran agak berat, tapi saya rasa panitia mendatangkan orang yang tepat. Beliau adalah staf ahli di kantor dan sudah menuliskan sekitar 15 buku. Dari mulai buku yang terkait dengan penataan ruang maupun buku-buku popular. Dari beliau saya belajar banyak. Pertama, jangan takut untuk menulis. Ya, ini penyakit saya. Tulisan yang selama ini saya hasilkan jauh dari jenis tulisan ilmiah. Karena saya takut salah dan takut disalah-salahin orang. Oleh karena itu beliau memberi beberapa tips jika ingin menulis sesuatu di koran : aktual, berkontribusi memberi solusi, data yang valid (bukan fitnah), kata yang santun, dan dimulai dari koran lokal.

Yupppppp, kereta sudah jalan. Sekarang saatnya kembali menikmati perjalananan. Terimakasih untuk teman-teman Diklat Jafung Angkatan II yang sangat bersemangat, pinter-pinter dan hobi jalan. Buat yang muntah-muntah, mual-mual, bersin-bersin, masuk angin, semoga cepat sembuh. Sampai ketemu lagi dikantor :)

Role Play Penyusunan RTRW

Here we are :)

Senin, 07 November 2011

Apa Kabar Resolusi 2011?

Pagi!

Kemaren aku tersadar akan sesuatu didalam dompetku yang sudah hampir satu tahun tersimpan. Resolusi Buaya Muda 2011. Waktu itu kita menyusunnya di Pondok Cabe Jalan Gejayan, tapi aku lupa tanggal berapa. Lupa juga ini sebelum atau sesudah tahun baru. Kita biasa melakukannya, hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi aku ingat sesuatu yang sedikit berbeda, resolusi buaya muda tahun 2011 tampak lebih sederhana, dibandingkan Resolusi tahun 2009 atau 2010.

Waktu itu aku ingat benar, kita sedang berjuang mencari jati diri. Berjuang menyelesaikan skripsi, berjuang menunjukkan eksistensi, berjuang cari kerjaan, berjuang cari makan. Bukan berarti sekarang tidak lagi. Tapi yang sekarang lebih keliatan pasrah dan berserah. Ada beberapa yang masih mencari, ada juga beberapa yang sudah merasa menjalani apa yang Dia takdirkan. Tapi pencapaian tidak akan ada habisnya, karena manusia berproses.

Aku tersenyum sendiri membaca resolusiku, ternyata cuma 2. Les piano dan bisa memaafkan orang. Kenapa les piano? Ini keinginanku dari SD, tapi jaman segitu, tak terjangkau. Pianikapun tak terbeli. Dan sekarang keinginan itu meletup lagi. Lalu yang kedua, kenapa bisa memaafkan orang? Karena memaafkan orang itu artinya bisa berdamai dengan diri sendiri. Nggak gampang.

Ada kabar baik dan kabar belum begitu baik. Untuk les piano, ternyata belum terlaksana sama sekali. Tapi brosurnya udah terkumpul kok (at least i try :P). Sempet tanya-tanya juga, ternyata kata mereka akan lebih mudah kalo les piano, punya piano dirumah. Karena les piano mahal dengan waktu yang sebentar. Jadi guru lesnya biasanya hanya kasih teknik bermain, sisanya harus belajar dirumah. Jadi ya belum bisa terwujud. Kabar baiknya, tentang memaafkan orang, terus belajar. Dan lama-lama bisa juga, hati lebih tenang. Ikhlas. Ada dua hal yang harus cepat dilupakan kebaikan kita dan kesalahan orang lain. Dan yang harus diingat , tentu saja kesalah saya. Semoga termaafkan.

Lalu, bagaimana dengan kabar resolusi para buaya muda yang lain?? Cepat diwujudkan yaa...:)

Check it out :)