Jumat, 31 Mei 2013

I'm NOT The Real Multitasker

Hasil penelitian menyebutkan bahwa perempuan lebih jago multitasking daripada laki-laki. Hal ini dibuktikan dengan fakta yang jelas oleh Ibu dan Bapak saya. Ibu adalah multitasker sejati, dan Bapak adalah focuser sejati. Jadi saya sangat percaya dengan penelitian tersebut. Dan jadilah saya multitasker-wanna be.
Kenapa saya mengatakan sebagai multitasker-wanna be? Ya karena itu Cuma berhenti di cita-cita saja. Karena pada suatu titik saya sadar bahwa saya bukanlah seorang multitasker sejati.
Saya mencoba menganalisa. Multitasker bagi saya adalah bisa menjalankan semua peran sesuai dengan skala prioritasnya.  Lalu saya mencoba mereview kembali apa prioritas saya (saat ini).

1.    Tuhan.
Secara Teori Tuhan seharusnya menjadi priortas pertama. Ini masalah tujuan hidup. Karena hidup dipertanggung jawabkan kepadaNya. Jadi seharusnya Dia adalah yang utama.
2.    Keluarga.
I do really love my family. Apapun kondisinya, saya bersyukur dengan kondisi keluarga saya saat ini meski kami terpisah cukup jauh. Cara saya memprioritaskannya adalah dengan rajin melihat tanggal merah dan memesan tiket pulang:D
3.    Masa Depan.
Nah ini adalah prioritas yang sedang paling sering menghantui saya. Lanjut sekolah lagi. Kesalahan adalah: saya cuma mentarget sekolah di luar negeri, tapi pasrah kapan berangkatnya dan dimana negaranya. Jatuhnya, sampai sekarang belum berangkat juga. Karena belajar Toefl ogah-ogahan, browsing beasiswa empot-empotan.
4.    Pekerjaan.
Yah…you know la..kenapa dia masuk dalam skala priortas saya, walau cukup di prioritas ke empat saat ini. Jangan tinggi-tinggi priortasnya, karena ditaro di nomor empat aja masih suka geser-geser yang prioritas 1,2,3.
5.    Ekstrakurikuler.
Walaupun sebutannya ekstrakurikuler, tapi nyatanya disini banyak juga tugas-tugasnya. Setahun terakhir, saya banyak dikasih kerjaan untuk desain-desain poster. Yang menarik adalah ketertarikan saya terhadap desain jadi terasah lagi disini, itulah kenapa kerjaan dengan deadline 1 hari pun saya terima, karena saya asyik melakukannya dan puas ketika menikmati hasil pekerjaan saya.

Belakangan, entah mengapa saya merasa Tuhan sedang menguji prioritas saya. Tibalah pada suatu hari saya merasa produktif sekali. Hari itu, banyak pekerjaan kantor yang berhasil saya selesaikan dalam waktu terbatas. Waktu terasa begitu cepat berlalu karena saya ngerjain ini itu, mondar mandir kesana kemari, dari jam 9 pagi sampai tiba-tiba saja Adzan Ashar berkumandang, dan lewatlah sholat dhuhur saya. Karena saya banyak menunda. Sekian detik saya diam terpana.  Keberhasilan dan kesibukan saya bukan apa-apa, kalau ternyata prioritas utama saya terlewat.

Ini hanya salah satu contoh. Banyak hal yang akhir-akhir ini membuat saya gemas sendiri dengan management waktu saya. Sholat mepet setelah waktunya hampir habis. Telepon dari orang tua sering direject karena sedang rapat dan saya lupa menelpon mereka kembali. Fokus untuk nyari beasiswa terbengkelai padahal masih ada sisa-sisa waktu yang bisa digunakan kalau mau. Bahkan kalau ada 2 hal yang saling menumpuk, saya suka salah mendahulukan prioritas. Mendahulukan mana yang kira-kira tidak akan banyak mengecewakan orang. Tapi ternyata, saya mengecewakan Tuhan. Disinilah saya menyadari bahwa saya bukan Multitasker sejati.

Saya ingin berbenah. Ramadhan ini saya banyak melewatkan acara buka puasa bersama karena saya tau ketika saya buka puasa bersama, saya tidak bisa tarawih di masjid atau punya tenaga lagi untuk tarawih dirumah. Menelpon orang tua tanpa alasan khusus, just say hello and tell them that im fine. Berusaha menyelesaikan aplikasi-aplikasi beasiswa dengan segala keterbatasan yang saya punya. Dan tidak menerima kerjaan ekskul yang bener-bener membuat saya jadi deadliner dan mengorbankan prioritas lain yang lebih utama. 

Bisa jadi, Tuhan memberi saya semua kesempatan untuk menjadi multitasker sejati karena sebenarnya saya mampu melakukannya. Tapi ternyata tidak. Saya tidak cukup disiplin untuk membuat semuanya menjadi hal yang utama dan terselesaikan. Karena saya tahu batas kemampuan saya, maka saya memutuskan untuk memilih.

Ini hanya sekedar renungan saya. Saya yakin setiap manusia memiliki priortas yang berbeda-beda. Tergantung pada fase dimana mereka berada. Dan ketika dihadapkan pada prioritas yang sedang menjadi utama, prioritas lain mungkin untuk dikorbankan. Harus ada pengertian dan penerimaan yang besar untuk hal-hal yang terpaksa dikorbankan demi sebuah prioritas yang diyakini, sengaja atau tanpa disengaja. Asal tidak terlalu banyak merugikan orang lain.

Catatan terakhir saya, tingkat kepuasan ketika memuaskan manusia dan ketika memuaskan Tuhan itu beda. Mungkin ini bisa dijadikan salah satu indicator dalam memilih prioritas.
Well, Saya acungkan dua jempol saya untuk para multitasker sejati yang ada dibumi :)

Multitasker Wanna Be